Sabtu, 12 Februari 2011

Kisah Cinta Sebenar ..Detik 12 RabiulAwal..Rasulullah Lahir dan Wafat

Selawat dan salam atas Junjungan Besar Nabi Muhammad s.a.w


Assalamualaikum kepada semua pembaca..


Hayati kisah ini…kisah cinta kekasih Allah kepada umatnya..


Kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohi Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.


Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, Wahai ummatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepadaNya. Kuwariskan dua perkara pada kalian;

Al-Quran dan Sunnahku.

>>Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk ke dalam syurga bersama-samaku.


Khutbah singkat diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu-persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghelakan nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang , saatnya sudah tiba. Rasullullah akan meninggalkan kita semua, keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap.


Rasulullah yang dalam keadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik yang berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang keringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. Bolehkah saya masuk? tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, Maafkanlah, ayahku sedang demam. Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah, Siapakah itu wahai anakku? Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini melihatnya. Tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malakul Maut. Kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangis.


Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya .. kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap sedia di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah? Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. Engkau tidak senang mendengar khabar ini? tanya Jibril lagi. Khabarkan kepada ku bagaimana nasib umatku kelak? Jangan khuwatir wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:

“kuharamkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya”, kata Jibril.


Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini. Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril? Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal, kata Jibril. Sebentar kemudian, terdengar Rasulullah mengerang, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua seksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum. Peliharalah solat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.


Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. Ummatii, ummatii, ummatii- Umatku, seorang manusia yang mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?


Allahumma solli ala Muhammad wa baarik wa sallim alaih.. betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Lazimilah diri kita dengan mengingati Allah & RasulNya..


“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Surat Al-Ahzab 56.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...